Blog Archives

Pesona Candi Borobudur Tak Lekang Oleh Waktu

Pernah masuk ke dalam daftar 7 keajaiban dunia, Candi Borobudur merupakan salah satu wisata candi di Jogja yang terbesar sekaligus terpopuler. Posisinya berada pada koordinat empat puluh kilometer barat laut pusat Kota Yogyakarta. Secara teknis, Candi Borobudur membentang di tiga kota sekaligus, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang.

Candi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia yang saat ini masih aktif digunakan sebagai tempat gelaran upacara hari raya umat Buddha. Situs yang berlokasi di dataran tinggi dan diperkirakan memerlukan waktu dua puluh lima tahun untuk penyelesaiannya ini didirikan pada abad ke-8 di mana saat itu merupakan masa kejayaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Namun, tidak diketahui pasti Raja yang mencetuskan pembangunan candi Buddha termegah di duia tersebut.

Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Candi Borobudur sebenarnya merupakan sumbangsih dari Wangsa Sanjaya yang mendirikan Mataram Hindu kepada umat Buddha, berupa lahan untuk membangun areal peribadatan. Adalah Rakai Panangkaran yang dipercaya memberikan lahan tersebut kepada para biksu Buddha. Namun, dipercaya Sang Maharaja tidak menyangka Borobudur akan menjadi semegah itu, yang mana kemudian membangun Candi Prambanan sebagai pesaing yang lantas ditasbihkan sebagai candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.

Situs megah ini sempat terlantar selama berabad-abad ketika pemerintahan Mataram berpindah ke Jawa Timur. Letaknya yang berada di tengah hutan menjadikannya sebuah harta karun sejarah yang lama terkubur sampai kemudian ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Raffles, seorang Gubernur Inggris untuk Jawa, di masa kependudukan Britania pada Indonesia. Sejak it uterus menerus dilakukan pemugaran yang membutuhkan waktu sangat lama mengingat luas areal serta banyaknya bangunan.

Selain menikmati tur ke setiap sudut candi, wisatawan dapat menyaksikan pula hamparan hutan hijau di sekitar Borobudur. Wisatawan harus membayar retribusi sebesar Rp. 30.000,- sampai dengan Rp. 40.000,- per orang untuk dapat mengeksplorasi setiap sudut keindahan Borobodur. Untuk fasilitas penunjang bagi wisatawan tidak perlu dikhawatirkan karena terdapat toilet umum, lalu banyak pula warung-warung, hingga penjual cindera mata di sekitar areal Candi Borobudur.

Category: Wisata Candi

Candi Kalasan Yogyakarta

Desa Kalibening yang berada di Kecamatan Tirtamani, Kabupaten Sleman, rupanya memiliki sebuah candi eksotis yang cukup tersohor di kalangan para wisatawan lokal maupun asing, yakni Candi Kalasan. Sebagai salah satu wisata candi di Jogja Candi Kalasan tidak kalah cantik dengan candi-candi lainnya. Pembangunan candi ini diperkirakan bersamaan dengan Candi Sari yang mana Candi Kalasan berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Tara, sedangkan Candi Sari merupakan asrama para Biksu.

Dibangun oleh Rakai Panangkaran atau yang memiliki gelar agung Maharaja Tejapurnama Panangkarana, meski sejatinya Candi Mendut merupakan candi untuk pemujaan agama Buddha, namun struktur bangunannya memiliki unsur Hindu yang cukup kuat di mana  mengisyaratkan masa peralihan akan kejayaan Mataram Kuno pemeluk Buddha yang lebih dikenal sebagai Wangsa Syailendra kepada Mataram Hindu pimpinan Wangsa Sanjaya, meskipun sejatinya mereka satu keluarga. Rakai Panangkaran sendiri kemudian menjadi raja kedua dari Mataram Hindu.

Hingga saat ini, Candi Kalasan masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan umat Buddha Yogyakarta, terutama para pemuja Dewi Tara. Wisatawan dapat menyaksikan upacara tersebut meskipun bukan pemeluk agama Buddha. Bukan hanya umat Buddha lokal, banyak pula wisatawan domestik maupun asing yang sengaja mengunjungi Candi Kalasan sebagai bagian perjalanan wisata religi dari keyakinan yang mereka anut.

Tiket masuk yang dibanderol pengelola untuk Candi Kalasan sangat terjangkau, yakni hanya Rp. 3.000,- saja per orang. Wisatawan sudah bebas mengeksplorasi tiap sudut candi yang terbuat dari batu alam andesit tersebut. Candi Kalasan sendiri juga dikenal dengan nama Candi Kalibening yang disesuaikan dengan nama desa tempat situs sejarah tersebut berada.

Candi Kalasan sendiri berada sekitar lima belas kilometer arah timur laut dari pusat kota Yogyakarta, atau dapat ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Meski tidak ada larangan tertulis untuk mengambil foto, namun wisatawan diwajibkan bertanya lebih dahulu kepada pengelola candi saat ingin memotret, sebab Candi Kalasan dipercaya akan kesakralannya di mana setiap tindak tanduk pengunjung harus penuh ketakziman. Jika tidak, diyakini dapat mendatangkan ketidakberuntungan.

Category: Wisata Candi

Keanggunan Candi Mendut

Candi Mendut berada sekitar 38 kilometer arah barat laut Kota Yogyakarta, tepatnya berlokasi di Desa Mendut yang sekaligus pula diabadikan sebagai nama candinya, di Kecamatan Mungkid, wilayah Kabupaten Magelang dari Provinsi Jawa Tengah. Posisi Candi Mendut tidak terlalu jauh dari Candi Borobodur, hanya berjarak sekitar tiga kilometer saja dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama beberapa menit atau kurang dari lima menit menggunakan kendaraan bermotor.

Berbeda dengan wisata candi di Jogja yang mayoritas merupakan tempat pemujaan umat Hindu, candi di kawasan Magelang didominasi oleh candi Buddha, pun demikian dengan Candi Mendut. Dibangun saat Raja Indra Wangsa Syailendra bertahta, Candi Mendut sendiri memiliki arti wenuwana atau hutan bambu yang mana lokasi sekitar candi memang dahulu dipenuhi bambu menjulang tinggi, meski kemudian dibersihkan dalam masa pemugaran Candi Mendut yang telah direncanakan sebagai tempat wisata sejarah.

Dalam bilik utama Candi Mendut, terdapat tiga buah arca raksasa, yakni Arca Vairocana atau Dyani Buddha Cakyamuni yang terbesar dan diapit dua arca lain di tengah, Arca Bodhisatva Vajrapani, dan Arca Avalokitesvara. Candi Mendut hingga saat ini masih aktif digunakan sebagai tempat peribadatan, tidak mengherankan bila terdapat hio atau dupa menyala serta rangkaian bunga segar dalam bangunan utama candi tersebut.

Sempat menghilang dari keberadaan setelah kepindahan keturunan terakhir dinasti Mataram Kuno ke wilayah Jawa Timur, Candi Mendut berhasil ditemukan kembali pada tahun 1836 oleh J. G. de Casparis, warga Belanda yang berprofesi sebagai seorang arkeolog. Pemerintah Belanda di Indonesia yang berdaulat kala itu pun memulai pemugaran untuk mendapatkan kembali struktur utama Candi Mendut.

Pada hari besar umat Buddha, Candi Mendut akan menjadi salah satu lokasi gelaran upacara keagamaan. Meski begitu, upacara terbuka untuk wisatawan atau masyarakat sekitar yang ingin menonton, dengan syarat tidak menimbulkan kericuhan ketika upacara tengah berlangsung. Untuk memasuki areal Candi Mendut, wisatawan hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp. 3.000,- per orang dengan fasilitas umum yang lengkap hasil dari swadaya masyarakat sekitar Candi Mendut sendiri.

Category: Wisata Candi

Pesona Candi Sari Yogyakarta

Candi Sari disebut juga Candi Bendan yang disesuaikan dengan nama desa tempat candi tersebut berada, yakni Desa Bendan yang berada dalam wilayah Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Dari struktur bangunan serta artefak-artefak yang ada, candi yang terletak sejauh sepuluh kilometer dari pusat kota Yogyakarta ini merupakan candi Buddha dan dibangun sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi pada masa kejayaan Mataram Kuno di tanah Jawa.

Sebagai salah satu wisata candi di Jogja, Candi Sari tidak difungsikan sebagai tempat pemujaan terhadap dewa maupun dewi dalam keyakinan Buddha, melainkan digunakan untuk asrama para Biksu. Hal tersebut dapat diketahui dari konstruksi bagian dalam bangunan yang didominasi oleh ruangan-ruangan. Candi Sari yang memiliki tiga lantai ini dibagi sebagai tempat penyimpanan di lantai teratas, tempat istirahat para Biksu di lantai kedua, dan tempat diskusi keagamaan di lantai paling bawah.

Candi Sari cukup lama terbengkalai sejak Kerajaan Mataram Kuno runtuh hingga kemudian ditemukan kembali pada abad ke-20 oleh pekerja pabrik pengolahan tebu milik Belanda. Pihak berwenang kemudian berusaha untuk melakukan pemugaran dari situs candi yang berada dalam kondisi rusak berat tersebut. Rekonstruksi selesai satu tahun kemudian walaupun tidak benar-benar berhasil. Dinding pelindung candi tidak dapat dipulihkan, namun arca penjaga yang berbentuk sosok besar membawa gada dan ular masih tetap ada.

Dengan tiket masuk yang dibanderol seharga Rp. 2.000,- saja per orang, para wisatawan sudah bebas menyusuri setiap sudut dalam candi yang mewujudkan kesederhanaan hidup para Biksu pada zaman tersebut. Udara di sekitar Candi Sari sangat sejuk berkat taman terbuka hijau yang dibuat di sekitar areal candi utama sehingga masuk ke dalam candi pun tidak akan terasa sesak.

Selain berkeliling candi, wisatawan juga dapat bersepeda mengelilingi kompleks Candi Sari yang cukup luas meski hanya bangunan utama candi yang dapat dipulihkan. Terakhir pada tahun 2003, candi mengalami pemugaran kembali yang membuat konstruksi asli bangunan utama menjadi lebih mendekati konstruksi asli dari bangunan yang berjarak hanya empat kilometer dari kompleks Candi Kalasan tersebut.

Category: Wisata Candi

Keindahan Candi Sambisari Di Balik Timbunan Tanah

Berjarak kurang lebih empat kilometer dari kompleks Candi Prambanan, tepatnya dua belas kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, terdapat Candi Sambisari yang keindahannya sempat tertimbun oleh gundukan tanah akibat letusan Gunung Merapi. Walaupun kini telah dipugar, masih ada sebagian bangunan yang tidak dapat dikonstruksi ulang. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi keindahan dari Candi Sambisari yang dinamai sesuai dengan dusun tempatnya berada, yakni Dusun Sambisari di Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan.

Sebagaimana mayoritas wisata candi di Jogja, candi ini merupakan tempat pemujaan pemeluk keyakinan Hindu terhadap para dewa, dengan dewa utamanya Dewa Siwa. Hal ini diketahui dari arca Siwa yang terletak dalam bilik utama candi. Namun, tidak ditemukan adanya jejak pemujaan terhadap dewa Trimurti yang lain, yaitu Dewa Brahma dan Dewa Wisnu.

Namun ditemukan tiga arca lain, yakni Dewa Ganesha yang memiliki tubuh manusia namun bentuk kepala dan wajah selayaknya gajah yang dipercaya sebagai salah satu putra Siwa, Dewi Durga atau perwujudan lain dari Dewi Parwati yang tak lain adalah istri Dewa Wisnu, dan Agastya yang merupakan Dewa Kebijaksanaan dan selalu berkalungkan tasbih serta membawa seruling. Arca ketiganya menyebar pada ketiga candi pendamping dari candi utama di mana arca Dewa Siwa berada.

Candi ini sempat tertimbun cukup lama hingga ditemukan oleh seorang petani pada tahun 1966 dan baru selesai dipugar pada tahun 1987. Posisi Candi Sambisari sangat unik, karena menjorok ke dalam tanah sehingga permukaaan di sekitarnya lebih tinggi yang kemudian mengharuskan wisatawan menuruni cukup banyak anak tangga untuk mencapai ke pusat candi. Selain menikmati keindahan candi, wisatawan dapat pula mengunjungi museum yang berisi dokumentasi pemugaran Candi Sambisari.

Hanya dengan biaya tiket masuk sebesar Rp. 3.000,- saja per orang, wisatawan sudah dapat menikmati dengan leluasa panorama alam di sekitar Candi Sambisari. Selain itu, fasilitas umum yang disediakan pun sangat lengkap dan akses menuju tempat-tempat publik pun juga sangat mudah. Tetapi perlu diingat bahwa Candi Sambisari hanya dibuka untuk umum pada pukul delapan pagi hingga enam sore.

Category: Wisata Candi

Keistimewaan Candi Barong

Berlokasi di Kecamatan Prambanan, tepatnya di Dusun Candi Sari dari Desa Sambirejo, terdapat sebuah candi Hindu yang cukup unik dan berbeda dari candi-candi lain di Yogyakarta maupun kawasan Jawa Tengah pada umumnya. Candi Barong juga berada di kawasan perbukitan Batur Agung, sama dengan Candi Ratu Boko. Berada di daerah perbukitan membuat tanah di sekitar candi ditumbuhi rumput-rumput hijau yang subur namun terawat, sehingga tidak merusak keindahan panorama yang ditawarkan.

Keunikan dari Candi Barong adalah bangunan ini ditujukan sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu atau Dewa Pemeliharaan dalam keyakinan Hindu. Sementara, di candi-candi lain yang berada di Yogyakarta maupun Jawa Tengah, mayoritas ditujukan untuk pemujaan terhadap Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Selain dibuktikan melalui arca Dewa Wisnu yang terdapat di ruang pemujaan utama, terdapat pula kerang raksasa berkepala ular yang merupakan perwujudan kendaraan Dewa Wisnu.

Candi Barong yang merupakan salah satu wisata candi di Jogja yang paling cantik ini juga menjadi areal pemujaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Kesuburan yang merupakan istri dari Dewa Wisnu dan juga Dewi Laksmi yang merupakan pengiring atau pendamping setia Sang Dewa. Arca ketiga tokoh tersebut ditempatkan di areal utama candi yang dikelilingi oleh dua teras luar yang sayangnya sudah rata dengan tanah dan tidak dapat dipugar.

Jarak Candi Barong dari pusat Kota Yogyakarta hanya sekitar tujuh belas kilometer dan membutuhkan perjalanan kurang dari empat puluh menit menggunakan kendaraan bermotor. Namun, jalanan menuju Candi Barong cukup terjal dan menanjak, sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra dalam berkendara. Jika belum hapal dengan rute yang dilalui, sebaiknya menyewa jasa pemandu wisata agar tidak tersesat maupun terjadi masalah ketika mengemudi.

Pesona lain yang ditawarkan oleh Candi Barong selain eksotisme bangunan candi adalah panorama matahari tenggelam yang indah saat disaksikan dari sela-sela bangunan candi utama. Sampai saat ini, wisatawan belum diharuskan membayar tiket masuk ke kawasan Candi Barong, namun hal itu berdampak pada ketiadaan fasilitas yang memadai. Jika ingin ke toilet atau mencari tempat makan harus pergi ke kawasan penduduk yang agak jauh dari areal candi.

Category: Wisata Candi

Eksotisme Candi Ijo Yogyakarta

Yogyakarta yang memiliki label kota pelajar, faktanya juga merupakan daerah yang sarat akan sejarah, terutama kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha. Salah satu wisata candi di Jogja yang wajib dikunjungi adalah Candi Ijo yang berjarak tempuh sejauh 28 kilometer dari pusat kota. Tepatnya, Candi Ijo berada di Desa Sambirejo yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kompleks Candi Prambanan.

Areal candi ini cukup luas dan usia bangunannya pun kurang lebih sama dengan Candi Ratu Boko, yakni diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi. Candi utamanya dikelilingi oleh tiga buah anak candi dengan tahap pemugaran yang belum selesai sepenuhnya oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Candi Ijo juga merupakan candi pemujaan kepada Trimurti dalam keyakinan Hindu, sedangkan untuk dewa utamanya pun tidak berbeda, yakni Dewa Siwa. Hal tersebut dapat dikonfirmasi melalui arca Lingga Yoni yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa dengan istrinya, yakni Dewi Parwati di ruang utama candi yang memiliki struktur bangunan berundak tersebut. Lingga Yoni juga melambangkan kesuburan dan keharmonisan pasangan selayaknya Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

Pemandangan unik lain dari candi yang terletak di atas bukit ini adalah pemandangan dari lapangan Bandara Adisucipto Yogyakarta yang tampak begitu jelas. Tidak mengherankan bila banyak kawula muda yang senang mencari spot-spot foto cantik ramai mendatangi lokasi Candi Ijo ini untuk mengabadikan panorama sekitar. Terutama saat sunset menjelang, sebab keindahan matahari tenggelam di areal candi terlalu sayang untuk dilewatkan ataupun tidak diabadikan dengan lensa kamera untuk diunggah di sosial media.

Tidak ada retribusi yang dikenakan terhadap wisatawan yang mengunjungi Candi Ijo. Namun, hal tersebut juga berbanding lurus dengan minimnya fasilitas yang tersedia. Tidak ada toilet umum maupun tempat beristirahat bagi wisatawan, pun demikian dengan rumah makan. Sehingga bila berkunjung ke Candi Ijo, wisatawan sebaiknya menyiapkan bekal yang cukup. Meski demikan, keindahan panorama yang ditawarkan oleh Candi Ijo ini tidak mungkin didapatkan di tempat lain, sehingga tetap worth it dikunjungi.

Category: Wisata Candi

Wisata Murah Meriah Candi Abang

Candi Abang mungkin termasuk sebagai salah satu wisata candi di Jogja yang paling unik. Berlokasi di Dusun Jogotirto yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, candi ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat Kota Yogyakarta karena hanya berjarak sejauh 14 kilometer saja. Candi ini acap kali disebut sebagai Bukit Teletubbies karena permukaannya seperti bukit hijau dalam animasi anak terkenal, yaitu Teletubbies.

Permukaan Candi Abang memang tertutup sepenuhnya oleh rerumputan hijau akibat bahan konstruksi yang digunakan, yakni bata merah, rentan terhadap tumbunnya lumut dan rumput jika dilakukan pembiaran dalam kurun waktu cukup lama. Penggunaan bata merah sendiri cukup asing bagi candi di Jawa Tengah yang mayoritas menggunakan batu alam Andesit sebagai konstruksi utama, dan umumnya bata digunakan untuk pembangunan candi-candi di daerah Jawa Timur.

Konstruksi asli dari Candi Abang sendiri berbentuk sebuah piramida, tetapi sudah roboh sehingga kini berwujud bukit yang cukup landai. Reruntuhan candi sendiri hanya dapat disaksikan dari puncak bukit dari sebuah cekungan besar meskipun tidak terlalu jelas lagi bentuknya. Candi ini merupakan candi Hindu yang diperuntukkan bagi pemujaan Dewa Siwa.

Menilik dari bentuknya yang menyerupai sebuah bukit, areal Candi Abang cocok sekali untuk dijadikan lokasi bersepeda dengan rute menanjak yang cukup menantang dan memacu adrenalin. Terutama pada sore hari, liburan akhir pekan, ataupun musim liburan panjang, banyak orang yang menghabiskan waktu di sini untuk bersepeda atau sekedar berpiknik bersama keluarga. Meski tidak memiliki spot foto khusus, Candi Abang kerap dijadikan lokasi untuk pemotretan pre-wedding berkat panorama alamnya yang indah.

Selain itu, pengelola menyediakan gazebo yang dapat dipergunakan wisatawan untuk beristirahat dan disertai dengan fasilitas toilet umum. Kehebatan lain dari areal wisata Candi Abang ini adalah biaya retribusi tiket masuk yang ditetapkan sangat murah, hanya Rp. 2.000,- per orang di saat obyek wisata candi lain di Yogyakarta membanderol tarif lebih dari Rp. 10.000,- untuk setiap wisatawan. Jika ada biaya tambahan mungkin hanya tarif parkir kendaraan yang tetap terjangkau.

Category: Wisata Candi

Candi Ratu Boko Yogyakarta

Memiliki ketinggian 196 meter di atas permukaan laut, tepatnya berada di atas bukit sejauh 18 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, Candi Ratu Boko merupakan situs sejarah yang istimewa. Hal ini dikarenakan konstruksinya saja sudah tidak biasa untuk zaman dahulu di mana pembangunan dilakukan di atas dataran tinggi yang mana sulit bila mengangkut perlengkapan dari bawah, utamanya batu untuk pembangunan, sehingga harus menggunakan batu-batu setempat.

Teknik pemanfaatan bebatuan sekitar di dataran tinggi merupakan hal yang sangat langka pada masa itu, di mana Candi Ratu Boko sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, ketika peradaban manusia sama sekali belum canggih. Hal tersebut direfleksikan sebagai bukti kepandaian serta keterampilan masyarakat zaman dahulu. Wangsa yang mendirikan candi ini sendiri adalah Wangsa Sailendra Hindu yang berbeda keyakinan dengan leluhurnya sebagai penganut ajaran Buddha.

Salah satu wisata candi di Jogja ini berada tidak jauh dari kompleks Candi Prambanan, hanya sekitar tiga kilometer saja dan masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman. Luas kompleks Candi Ratu Boko sebesar 25 ha. Berdasarkan konstruksinya, para sejarawan meyakini candi tersebut bukanlah areal keagamaan sebagaimana candi-candi lain, melainkan sebuah istana Raja atau keraton. Sebab, di sana terdapat dinding-dinding pembatas yang tinggi disertai parit sebagai pertahanan, reruntuhan layaknya bangunan tinggal, hingga kolam.

Saat ini, pemerintah Yogyakarta telah memasukkan Candi Ratu Boko sebagai kawasan wisata edukatif sehingga ditambahkan gazebo serta aula pertemuan dan fasilitas penunjang lain di sekitar areal candi yang diperuntukkan bagi para wisatawan. Jika ingin menginap pun telah disediakan area perkemahan yang nyaman dengan persewaan peralatan yang lengkap berikut dengan paket outbond yang terjangkau.

Kunjungan wisatawan biasanya sangat padat ketika menjelang senja, terutama bagi mereka yang ingin mengejar sunset di areal Candi Ratu Boko yang sudah tersohor keindahannya. Untuk dapat masuk ke areal Candi Ratu Boko, wisatawan dikenakan retribusi berupa tiket masuk sebesar Rp. 25.000,- untuk orang dewasa, dan Rp. 12.500,- untuk anak-anak. Bagi wisatawan asing, tarif yang dibebankan sebesar Rp. 50.000,- per orang.

Category: Wisata Candi

Wisata Akhir Pekan Di Candi Prambanan

Candi Prambanan merupakan salah satu wisata candi di Jogja yang paling terkenal. Candi Prambanan berlokasi pada jarak sejauh tujuh belas kilometer dari Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Prambanan, wilayah otonomi Kabupaten Sleman. Kompleks candi ini sangat luas, sehingga terdapat fakta yang menarik bahwa pusat dari areal candi berada dalam wilayah administratif Daerah Istimewa Yogyakarta, akan tetapi pintu masuknya termasuk dalam teritorial Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dahulu, kompleks candi umat Hindu ini dinamakan Siwagrha atau bahasa Sansekerta yang memiliki arti Rumah Siwa karena memang dewa utama dari candi ini adalah Dewa Siwa yang merupakan Dewa Pemusnah atau pengoreksi kebathilan, ditilik dari penempatan arca raksasanya di ruang pemujaan utama. Meski demikian candi ini juga dibangun untuk memuja Brahma atau Dewa Penciptaan, serta Dewa Wisnu atau Dewa Pemeliharaan. Pembangunannya pada zaman dahulu diperkirakan rampung pada tahun ke-9 masehi.

Sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan acap kali disebut sebagai pesaing dari Candi Borobudur di Kabupaten Magelang yang merupakan candi Buddha terbesar. Terlebih, posisi kedua candi tersebut tidak terlalu jauh satu sama lain. Konon, Candi Prambanan yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya yang merupakan pemeluk agama Hindu memang diperuntukkan menandingi Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Sailendra meskipun secara garis keturunan mereka masih berstatus sebagai kerabat dekat.

Sayangnya, salah seorang pewaris Wangsa Sanjaya menolak untuk melanjutkan tinggal di kompleks Candi Prambanan dan memutuskan untuk membangun dinasti baru di daerah Jawa Timur. Areal candi kemudian terlantar dan mulai mengalami kerusakan yang diperparah larva dari Gunung Merapi yang meletus. Baru ketika masa kependudukan Inggris, Candi Prambanan ditemukan kembali dan mulai menjalani pemugaran untuk mendapatkan konstruksinya semula, namun proses tersebut berjalan terlalu lambat sampai akhirnya Indonesia merdeka.

Sejak tahun 1991, Candi Prambanan secara resmi berada di bawah pengawasan UNICEF dan dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata alam sekaligus religi Hindu. Saat ini, tiket masuk yang ditetapkan oleh pengelola adalah sebesar Rp. 30.000-40.000,- untuk orang dewasa dan Rp. 15.000-20.000,- untuk orang yang sudah dewasa.

Category: Wisata Candi